H.M.Nur Kholis Setiawan : Ada 4 Tipologi Pengembangan Madrasah

H.M.Nur Kholis Setiawan : Ada 4 Tipologi Pengembangan Madrasah

Bengkulu (Informasi dan Humas) 9/3- Direktur Pendidikan Madrasah Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. H.M.Nur Kholis Setiawan, M.A menyebutkan Direktorat Pendidikan Madrasah akan mengembangkan sistem pendidikan Madrasah menjadi 4 tipologi. 

“Dirjen Pendidikan Madrasah berencana akan mengembangkan sistem pendidikan madrasah menjadi empat tipologi sehingga dapat memberikan akses bagi masyarakat untuk dapat memilih tipologi mana yang cocok,” ujarnya saat memberikan pembinaan dan arahan kepada seluruh kepala Madrasah se Provinsi Bengkulu di Aula Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu, Jumat malam (6/3).

Menurut dia, 4 tipologi pendididikan yang akan dikembangkan itu adalah pertama tipologi pendidikan Madrasah berbasis Akademik/Sains, kedua tipologi pendidikan Madrasah berbasis Vokasi atau kejuruan, ketiga tipologi pendidikan Madrasah berbasis keagamaan. 

“Tipologi berbasis keagamaan diharapkan dapat melahirkan para kader ulama kedepan,” ungkapnya. 

Kemudian yang keempat tipologi pendidikan Madrasah berbasis reguler yang nantinya akan ada kajian lebih lanjut terkait kemampuan peserta didik apakah akan diarahkan pada akademik, kejuruan atau pendidikan keagamaan.

“Dengan adanya pengembangan sistem pendidikan madrasah itu masyarakat bisa memilih mana yang tepat sesuai dengan minatnya sehingga untuk mewujudkan madrasah kuat dapat terwujud,” ujarnya. 

Untuk dapat merealisikan rencana tersebut, H.M.Nur Kholis Setiawan juga telah melakukan pembenahan kelembagaan madrasah yang jumlahnya mencapai 73.333 madasah se-Indonesia mulai RA sampai MA yang 92 persen madrasah tersebut berstatus madrasah swasta.

Kemudian yang kedua adalah memberdayakan tenaga pengajar diseluruh Madrasah baik yang PNS maupun non PNS yang jumlahnya mencapai 814.101 guru yang diantaranya atau sekitar 123.000berstatus guru PNS

Selain itu, Direktorat Pendidikan Madrasah juga sedang mengembangkan aplikasi Sistem Informasi Manajemen (SIM) database guru sehingga diharapkan data guru dapat lebih valid mulai dari umur, pendidikan , jenis kelamin, sampai mata pelajaran yang diajarkan di Madrasah. 

“Data harus akurat, dan kedepan harus ada linierisasi antara pendidikan guru dan mata pelajaran yang diajarkan di Madrasah,” ungkapnya. 

Wacana Tunjangan Sertifikasi Tidak Berlaku Seumur Hidup

Hal lainya yang cukup menarik dari pembinaan Direktur Pendidikan Madrasah adalah adanya wacana bahwa tunjangan sertifikasi guru tidak akan diberlakukan seumur hidup. 

“Produktivitas guru itu berkisar umur 27 sampai 38 tahun selanjutnya kecenderuangan produktivitas akan menurun,” tegasnya. 

Hal lainya yang menjadi pertimbangan wacana kebijakan itu adalah besarnya anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk belanja pegawai, pada tahun 2014 tercatat anggaran direktorat Madrasah mencapai 23 T yang akan digunakan untuk BOS 7,5 T, Tunjangan Sertifikasi Non PNS, 4,7 T, BSM 1,9 T dan lain sebagainya. 

Dengan kondisi itu, maka tidak heran jika pembangunan sarana dan prasana Madrasah masih belum maksimal apalagi dengan jumlah Madrasah 92 persen merupakan Madrasah swasta yang dikelola oleh Masyakarat.

Penulis : Jaja **Redaktur: H.Nopian Gustari

Bagikan :