Kanker Kulit Tak Surutkan Semangatku Mencari Ilmu

Kanker Kulit Tak Surutkan Semangatku Mencari Ilmu
Kondisi Rahmat sangat memprihatinkan, keluarganya berharap ada donatur yang bekenan membantu pengobatan untuk kesembuhan Rahmat (foto: Kontributor)

Rejang Lebong (Inmas) --- Namaku Rahmat Juliansyah. Aku adalah putra bungsu dari tiga bersaudara. Ayahku bernama Robet sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan di kota tempatku tinggal. Ibuku bernama Fatmawati, bekerja sebagai Ibu rumah tangga, beliau yang senantiasa menemani hari-hariku di rumah kontrakan yang kelargaku tempati.

Aku terlahir di kota Curup pada tanggal 10 Juli 2008. Sejak dilahirkan aku dibesarkan di sebuah rumah kontrakan nomor 718 yang berada di pemukiman padat penduduk tepatnya di sebuah Gang kecil Masjid Syatari Jl. Cokro Aminoto RT 003 RW 002 Kelurahan Talang Rimbo Baru Kecamatan Curup Tengah Kabupaten Rejang Lebong (RL) Provinsi Bengkulu.

Aku menimba ilmu di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) GUPPI 11 Curup Tengah Rejang Lebong, dan saat ini aku telah duduk di bangku kelas tiga. Sejak kedua orang tuaku menitipkaku di Madrasah ini, aku telah menggantungkan cita-citaku setinggi bintang di angkasa. Bagiku cuma satu target yang mesti kucapai ialah menjadi orang sukses. Ayah dan Ibu selalu menyemangatiku untuk rajin ke sekolah. Mereka ingin anaknya menjadi orang yang berhasil agar tak menderita seperti mereka.

Di rumah kontrakan yang sempit ini aku bermain dengan seorang kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan. Mereka berdua juga tak kalah menyayangiku. Maklum aku adalah anak bungsu yang manja dihadapan mereka. Di samping itu, anak-anak tetangga juga sangat akrab denganku terutama mereka yang seusia denganku.

Akan tetapi keceriaan di wajahku mulai memudar sejak dokter memvonis aku mengidap penyakit penyakit aneh. Saat itu tanggal 1 Juli 2017, aku merasakan gatal di kulitku. Awalnya ayah dan ibuku mengira itu hal biasa yang dialami oleh anak kecil. Mereka hanya melumuri area gatal tersebut dengan salaf. Kanker kulit, iya itu diagnosa dokter yang memeriksa penyakitku.

Semakin hari rasa gatal tersebut makin menyiksaku. Aku hanya bisa menggaruk kulitku. Tetapi usaha demikian sia-sia belaka. Makin hari kulitku mulai melepuh dan menggerogoti seluruh tubuhku. Pada tanggal 20 Juli 2017 seluruh tubuhku mengelupas bahkan rambutku mulai rontok. Cairan kuning dengan bau menyengat mulai keluar dari kulitku.

Ayah dan Ibu pernah membawaku ke RSUD Curup. Harapan mereka penyakit ini lenyap dari tubuh putranya. Namun sayang bukannya sembuh, penyakit ini seolah telah menyatu dengan tubuhku. Karena itu, tiga hari kemudian dokter menganjurkan aku dirawat di Rumah Sakit M. Yunus Kota Bengkulu.

Dokter dan perawat di rumah sakit senantiasa menyemangatiku. Mereka selalu menghiburku dengan megatakan penyakit ini akan segera pergi. Perawatan dan pengobatan di rumah sakit memang gratis. Tetapi biaya yang dibutuhkan oleh ayah ibu demi menjagaku semakin hari semakin menipis. Maka kami hanya bertahan tujuh hari di rumah sakit M. Yunus. Sebelum penyakit ini sembuh kami telah meninggalkan rumah sakit.

Saat ini aku benar-benar tak mampu bersekolah. Jangankan memakai seragam sekolah, tersentuh sehelai benang saja kulit ini terasa diiris-iris, perih. Aku rindu sekolah. Aku rindu dengan guru-guruku. Aku rindu bermain dengan teman-teman sperjuanganku. Ya Allah! Sembuhkanlah penyakitku ini agar aku bisa kembali menggapai asa!

Aku sangat bergembira suatu hari Kepala MIS GUPPI, Bapak Sail Hafa bersama guru dan teman-temanku datang ke rumah menjengukku. Mereka memotivasiku untuk bersabar dan berjuang melawan penyakit ini. Hanya satu asa yang tak pernah pudar di lubuk hatiku, aku harus sembuh dan kembali melanjutkan sekolah demi meraih cita-cita. (Bulkis)

 

Bagikan :