PASCA PENGALIHAN HAJI, PEMBERDAYAAN RUMAH IBADAH MASUK ASTA PROTAS KEMENAG | MENAG DORONG ASN KEMENAG KUASAI AI BERBASIS NILAI KEAGAMAAN | KEMENAG MEMBUKA PMBM YAKNI SELEKSI MADRASAH NEGERI DAN SWASTA (JALUR PRESTASI, REGULER, DAN AFIRMASI): MARET S.D JULI 2026

Search

Peran Keluarga dalam Membangun Karakter Anak Buddhis

Peran Keluarga dalam Membangun Karakter Anak Buddhis

Keluarga adalah orang-orang yang berada dalam seisi rumah yang sekurang-kurangnya terdiri dari suami, istri, dan anak-anak (Poerwadarminta, 2007:553). Soelaeman (1994) mendefinisikan keluarga dengan suatu unit masyarakat kecil. Maksudnya keluarga itu merupakan suatu kelompok orang sebagai suatu kesatuan atau unit yang terkupul dan hidup bersama untuk waktu yang relatif berlangsung terus, karena terikat oleh pernikahan dan hubungan darah.

Karakter secara etimologi, istilah dari karakter berasal dari bahasa latin yaitu character yang artinya adalah tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, kepribadian, budi pekerti serta akhlak. Karakter atau watak adalah sifat batin yang memengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki manusia atau makhluk hidup lainnya. Setiap orang pasti memiliki karakter dan kepribadian yang berbeda-beda. Karakter kita biasanya dipengaruhi oleh faktor genetik, cara kita berpikir, dan reaksi dari lingkungan sekitar.

Delapan fungsi keluarga dalam membentuk sebuah keluarga, yaitu:

1. Fungsi Agama

Agama adalah kebutuhan dasar bagi setiap manusia yang ada sejak dalam kandungan. Keluarga adalah tempat pertama seorang anak mengenal agama. Keluarga dalam hal ini pasangan suami istri wajib menanamkan, mengembangkan dan mengamalkan nilai – nilai luhur agama, sehingga anggota keluarga menjadi baik dan bertaqwa.

2. Fungsi Cinta Kasih Sayang

Orangtua pasangan wajib mencurahkan cinta dan kasih saying kepada anaknya. Empati, pemaaf, setia dan lain lain dapat ditumbuhkan dari cinta dan kasih sayang yang diberikan orangtua kepada anak – anaknya.

3. Fungsi Perlindungan

Keluarga mempunyai fungsi sebagai tempat perlindungan bagi anggota keluarga.Keluarga harus memberikan rasa aman, tenang, dan tentram bagi seluruh anggota keluarga.

4. Fungsi Sosial Dan Budaya

Manusia adalah makhluk sosial yang bukan hanya membutuhkan orang lain namun juga membutuhkan interaksi dengan orang lain yang berbeda dengannya. Sopan santun, peduli, toleransi adalah beberapa nilai yang bisa ditanamkan pada anak melalui fungsi sosial budaya.

5. Fungsi Reproduksi

Salah satu tujuan perkawinan adalah memperoleh keturunan yang baik, kesepakatan jumlah anak, jarak kelahiran dan kesehatan reproduksi perlu di perhatikan dalam keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis dan sejahtera.

6. Fungsi Sosialisasi Dan Pendidikan

Orangtua adalah pendidik pertama dan utama bagi anak – anaknya, sekaligus sebagai pembimbing dan pendamping dalam tumbuh kembang anak, baik secara fisik, mental dan spiritual.Keluarga merupakan salah satu tempat pembelajaran seumur hidup untuk anak dan orangtua itu sendiri.

7. Fungsi Ekonomi

Sebuah keluarga harus mampu memenuhi kebutuhan materiil setiap anggota keluarganya. Untuk memenuhi kebutuhan materiil banyak nilai–nilai yang perlu dikembangkan diantaranya adalah hemat, disiplin, ulet, bekerja keras.

8. Fungsi Lingkungan

Yang dimaksud dengan lingkungan disini adalah terkait kebersihan dan kesehatan lingkungan disekitar keluarga.Kemampuan keluarga dalam menjaga kebersihan, kesehatan dan kelestarian lingkungan merupakan Langkah positif untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

Peran keluarga dalam membentuk karekter anak dimulai dengan pendidikan karakter yang upaya membentuk/mengukir kepribadian manusia melalui proses:

  1. knowing the good (mengetahui kebaikan),
  2. loving the good (mencintai kebaikan), dan
  3. acting the good (melakukan kebaikan), yaitu proses pendidikan yang melibatkan tiga ranah: pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling/moral loving), dan tindakan moral (moral acting/moral doing), sehingga perbuatan mulia bisa terukir menjadi bijaksana.

Dalam Sigalovada Sutta dijelaskan kewajiban orang tua terhadap anak adalah:

  1. mencegah anak berbuat jahat,
  2. menganjurkan anak berbuat baik,
  3. memberikan pendidikan yang sesuai kepada anak,
  4. mencarikan pasangan yang sesuai untuk anak, dan
  5. menyerahkan harta warisan kepada anak pada saat yang tepat.

“Orang bijaksana mengharapkan anak yang meningkatkan martabat keluarga, dan mempertahankan martabat keluarga,  serta tidak mengharapkan anak yang merendahkan martabat keluarga; yang menjadi penghancur keluarga”(Khuddaka Nikaya, 252).

Dalam lingkungan keluarga, orang tua menjadi teladan bagi anak-anaknya. Orangtua berperan sebagai pendidik awal untuk menanamkan karakter sejak dini pada anak. Orangtua harus mampu menjadi pemimpin, teladan dan figur, serta memberikan dorongan moral sehingga anaknya menjadi individu yang lebih baik.

Nilai-nilai universal dalam agama Buddha akan membetuk karakter yang positif bagi anak. Dalam The essensi of Buddha Abhidhamma, nilai-nilai tersebut antara lain: keyakinan, cinta kasih, malu berbuat jahat, takut akan akibat berbuat jahat, keperdulian, ketenangan pikiran, ucapan jujur, tindakan yang benar, belas kasihan, dan bijaksana.

Menanamkan karakter sejak dini pada anak sangat penting. Hal ini dapat dimulai dari hal sederhana seperti mengajak anak untuk melakukan kebajikan seperti berdana, puja bakti baik di rumah atau ke vihara, mengikuti sekolah minggu Buddha, fangsen, peduli dengan lingkungan sekitar, melatih anak terbiasa berbicara jujur dan lain sebagainya. Budi pekerti yang perlu ditanamkan kepada anak, seperti: jujur, memiliki sopan santun, mandiri, tanggung-jawab, empati, menghormati orang yang lebih tua, dan lainnya. Anak juga harus dilatih mempraktikkan Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis dapat dijadikan sebagai sumber dan fondasi utama dalam membentuk karakter serta moral anak sedini mungkin. Dalam Dhammapada, dinyatakan, "Abhivadana-silissa, niccam vuddhapacayino, cattaro dhamma vaddhanti, ayu vanno sukham balam“ yang artinya, seseorang yang selalu sopan dan menghormati yang lebih tua akan mengalami perkembangan dalam empat aspek, yaitu umur panjang, penampilan yang baik, kebahagiaan, dan kekuatan (Dh.109).

Dengan adanya penanaman karakter Buddhis sejak dini, maka dalam kehidupan sehari-hari dapat tercipta masyarakat Buddhis yang memiliki karakter baik. Dalam Dhammapada Yamaka Vagga syair 1 dan 2 dijelaskan bahwa: “Pikiran adalah pelopor, pikiran adalah pemimpin dan pikiran adalah pembentuk” oleh karena itu untuk menciptkan kakater Buddhis yang baik dimulai dari pikiran yang baik. Pikiran baik akan mengondisikan ucapan baik, ucapan baik akan mengondisikan perbuatan baik. Dengan sering terus melakukan perbuatan baik dapat menumbuhkan kebiasaan atau karakter yang baik. Jadi, karakter yang baik berasal dari pikiran yang baik.

Marilah menanamkan karakter baik sejak dini kepada anak, dengan memberikan pemahaman dan menanamkan pikiran yang baik serta positif dapat menciptakan generasi Buddhis yang berkarakter baik.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

 

Penulis

Widhinyanna Pujita, S.Pd.B.

Penyuluh Agama Buddha Provinsi Sumatera Selatan

 


Kategori: Buddha

Layanan WA
WA Kami