DOA MEMPUNYAI KEKUATAN YANG DAHSYAT

Drs.H.Syaiful Bahri, M.Pd (Ketua Umum MUI Kota Bengkulu) Oleh : Drs.H.Syaiful Bahri, M.Pd (Ketua Umum MUI Kota Bengkulu)

Setiap bulan Ramadhan segenap umat Islam di berbagai belahan dunia senantiasa memanfaatkan bulan Ramadhan untuk meningkatkan amal ibadah, baik pada siang hari maupun malam hari, sehingga intensitas dan motivasi umat Islam dalam menimba dan menumpuk amal ibadah cenderung meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan usia manusia yang makin bertambah. Baik umat Islam yang berada pada komunitas mayoritas pada suatu negara maupun pada komunitas minoritas, seperti di berbagai negara ; Jerman, Inggris, termasuk Amerika Serikat yang konon umat Islamnya berjumlah 70 ribuan yang tengah memperjuangkan hak-hak kebebasan sebagaimana umat agama yang lain di negeri tersebut.
Bulan Ramadhan yang begitu banyak fadhilahnya bagi siapa yang menghiasinya dengan berbagai amal ibadah, maka akan mendapatkan ganjaran pahala berlipat ganda tanpa ada ukuran yang pasti, karena Allah sendiri yang telah berjanji akan memberikan ganjaran bagi yang beramal ibadah pada bulan Ramadhan, beriring itu pula dosa-dosa yang telah lalu akan mendapat pengampunan dari Allah Swt. Dengan dua motivasi melaksanakan puasa, pertama karena iman dan kedua mengharapkan ridho Allah Swt.
Di tengah intensitas meningkatnya amal ibadah bagi umat Islam di bulan Ramadhan, maka alangkah idealnya jika intensitas do’a mengiringi ibadah yang kita kerjakan, karena ibadah dan do’a merupakan rangkaian yang semestinya merupakan satu paket yang perlu disinergikan antara ibadah dengan do’a.
Kita semua telah banyak melakukan do’a, baik dido’akan, berdo’a sendiri dan seterusnya. Do’a berasal dari bahasa Arab yang cukup banyak disebut dalam Al Qur’an, ada yang berarti permintaan, permohonan, panggilan, pujian dan seterusnya. Sedangkan dalam pengertian istilah yang dikemukakan Prof.Dr.TM Hasbi Ash Shiddiqy mengutip pendapat Ath-Thaibi “ Do’a melahirkan kehinaan, kerendahan diri, serta menyatakan kehajatan dan ketundukan kepada Allah Swt.” Jadi dengan demikian, do’a adalah ungkapan yang disampaikan kepada Allah dengan menyadari kelemahan diri, berharap permintaan dikabulkan oleh Allah Swt.
Selanjutnya do’a mempunyai eksistensi dan kekuatan yang sangat dahsyat, karena do’a mampu menembus ruang angkasa, tembok yang kokoh, lautan yang luas dan dalam, jurang yang terjal sekalipun, dan apapun bentuk kesulitan yang dihadapi jika kita berusaha maksimal diiringi dengan do’a, maka insya Allah mampu ditembus dengan apa yang disebut do’a, lantaran begitu dahsyatnya keampuhan do’a itu sendiri.
Cukup banyak ayat Al Quran yang mengemukakan tentang do’a ini, baik menyangkut etika berdo’a, pernyataan dan janji Allah akan kabulkan do’a dan pinta hambanya, sampai kepada ancaman Allah SWT bagi hambanya yang malas berdo’a. Seperti pada surat Al Mukmin : 60 Allah murka kepada hambanya yang malas berdo’a, bahkan Allah kategorikan orang yang malas berdo’a adalah orang yang sombong dan akan dimasukkan ke neraka jahannam dalam keadaan hina.Tentu perbuatan sombong sangat tidak disukai bukan hanya Allah tetapi juga kita manusia. Beriring dengan itu pula Rasulullah SAW menyatakan dalam salah satu hadistnya bahwa do’a adalah otaknya ibadah.
Dari ayat dan hadist tersebut di atas jelas berarti betapa eksistensi do’a sangat erat hubungannya dengan ibadah seseorang. Jika kita analogikan kepada manusia yang tidak ada otaknya berarti tidak berakal, maka tentu dapat kita bayangkan apa yang akan terjadi, dia tidak dapat membedakan baik dan buruk, tidak dapat berkarya, tidak dapat membedakan antara hak dengan yang bathil, tidak ada prestasi yang akan diukir.
Oleh karena itu ibadah dan do’a idealnya sinergi. Dari kesinergian itu akan membuahkan out put yang luar biasa. Menurut Syekh Al Islam Abu Al Abbas Ibnu Thaimiyah yang dikutip oleh DR.’Aidh bin Abdullah Al Qarni dalam bukunya yang berjudul The Way of Alqur’an menyatakan : “ Ibadah dapat membentengi hati dari sombong,sedangkan meminta pertolongan dapat menghapuskan sifat riya dari lubuk hati “.
Dari pendapat tersebut di atas nampak dan jelas betapa eratnya hubungan ibadah dengan do’a karena satu sama lain akan saling menguatkan dan seakan tidak terpisahkan. Ibadah yang semakin membaik akan membuahkan out put sikap dan prilaku seseorang akan menjadi baik pula apapun dan dimanapun propesi yang ia lakoni, karena secara psykologis diri dan kepribadiannya dibentuk memalui ajaran dan benteng rambu-rambu dari ibadah yang telah ia lakukan. Karena itu dalam alquran kita banyak mendapati kata-kata “ aqimish shalah “ bukan “ qomash shalah” yang mengilhami shalat itu ditegakkan bukan dikerjakan. Sebab jika shalat ditegakan, maka berarti dia senantiasa menjadikan shalat itu benteng dan rambu-rambu dalam kehidupannya. Berbeda jika shalat hanya dikerjakan, maka tidak ada motivasi untuk menjadikan shalat itu benteng kehidupan karena itu tidak sedikit orang rajin shalat, tetapi perbuatan maksiatpun rajin juga dikerjakan, lantaran shalat yang dilakukannya baru sebatas mengerjakan belum menegakkan shalat.
Demikian juga yang dimaksud dengan meminta pertolongan atau do’a, yang dapat menghapuskan dari sifat riya dan sejenisnya tentu hal ini terpusat dengan apa yang disebut hati, dimana hati sebagai pengendali dan penggerak dari hasrat dan keinginan seseorang. Karena itu orang yang suka berdo’a secara psykologis disadari maupun tidak disadari bahwa dirinya telah telah dibimbing dan dididik bahwa tidak ada bagi dirinya kelebihan apa-apa ternyata yang mempunyai kelebihan itu hanya milik Allah SWT.
Dari sisi ibadah dan do’a seperti telah dikemukan di atas, ternyata do’a yang mungkin sebagian kita masih ada beranggapan suatu hal yang hanya merupakan kebiasaan saja atau basah basi saja, atau srimoni saja. Padehal do’a dapat menembus berbagai lapisan kesulitan yang kokoh sekalipun bila Allah SWT. mengabulkan do’a dan pinta hambanya. Penulis mempunyai sekelumit pengalaman pribadi tatkala saya dipercaya oleh pemerintah untuk menjadi petugas Haji Kloter mendampingi jemaah haji tahun 2008 sebagai ketua kloter 6 PDG dengan do’a demi do’a yang saya sampaikan jauh sebelum diberangkatkan ternyata paling tidak ada 2 hal yang saya sangat rasakan luar biasa dari do’a itu.
Pertama saya yang punya kebiasaan alergi dengan debu dan cuaca dingin, sehingga mengakibatkan bersin berkali-kali, nyatanya di Madinah cuaca sangat dingin dan di Mekkah pun berdebu,tetapi saya nyaris tidak pernah bersin.
Kedua saya belum pernah pergi haji pada waktu itu, sehingga ada perasaan khawatir kalau tidak mampu memberikan bimbingan, pelayanan dan perlindungan seperti yang diamanahkan pada Undang-Undang Haji Indonesia no.13 tahun 2007, tetapi dengan mudah saya dapat menguasai baik materi manasik, menyiasati strategi untuk antisipasi resiko tinggi terhadap jemaah haji yang saya pimpin, dan memprogram serta menata manajemen pengelolaan berbagai kegiatan jemaah haji pada rentetan kegiatan yang dilalui untuk kepentingan jemaah haji kloter yang saya bawak. Kesemuanya itu mengalir seperti ada yang memberikan petunjuk seolah membisikan pada diri saya sebagai jawaban apa dan bagaimana yang harus saya lakukan.
Sekelumit pengalaman pribadi yang tidak seberapa ini, penulispun pernah mendapati pengakuan dari seorang pasien yang telah didiagnosa mesti dilaksanakan operasi matanya untuk mendapaatkan kesembuhan yang hanya tinggal menerima rujukan untuk dibawa ke Jakarta pada besok harinya, ternyata kekuatan ibadah dan do’a yang dilakukannya pada malam hari sebelum menerima rujukan itu dikabulkan oleh Allah SWT. setelah dilakukan pemeriksaan terakhir pada saat akan dikeluarkan rujukan keluhan dan penyakit itu tidak ada lagi.
Mungkin bagi para pembaca punya juga pengalaman pribadi yang beragam, tetapi paling tidak sekelumit yang penulis kemukakan ini adalah pembuktian bahwa betapa dahsyatnya kekuatan do’a yang mampu menembus berlapis-lapis kesulitan yang sekokoh apapun juga apakah itu ribet atau mustahil sekalipun, maka jika do’a yang kita sampaikan diterima oleh Allah Swt. tidak ada yang dapat membendungnya sekalipun itu sangat mustahil. Oleh karena itu ajaran agama Islam memerintahkan kepada kita untuk berusaha semaximal mungkin diiringi dengan ibadah dan do’a baru setelah itu kita tawakkal kepada Allah SWT. lebih-lebih di bulan Ramadhan yang penuh dengan barakah ini.

Bagikan :