Bengkulu (Humas)- Pagi di Kecamatan Nasal kecamatan dipenghujung perbatasan provinsi Bengkulu dan Lampung, tepatnya di Kabupaten Kaur, sering kali dimulai dengan kabut tipis dan jalanan yang basah oleh sisa hujan malam. Di antara kondisi itulah Syirajun, seorang penghulu Kementerian Agama Kabupaten Kaur, memulai rutinitas pengabdiannya sejak tahun 2023.
Dari rumahnya menuju Kantor Urusan Agama (KUA) Nasal, Syirajun menempuh perjalanan sekitar satu jam. Waktu tempuh itu belum termasuk perjalanan tambahan ketika ia harus memenuhi panggilan tugas ke desa-desa terpencil wilayah yang secara geografis menyimpan tantangan berat dan kerap luput dari perhatian.
Sebagai penghulu, tugas Syirajun tidak berhenti di balik meja kantor. Ia justru lebih sering berada di lapangan, menghadapi medan ekstrem yang menjadi keseharian masyarakat setempat. Jalan berlumpur, terjal, berbatu, dan menanjak sudah menjadi pemandangan biasa. Pada titik tertentu, kendaraan tak lagi mampu melanjutkan perjalanan. Di sanalah Syirajun memutuskan untuk berjalan kaki.
Ia melewati hutan, menyeberangi sungai, dan melintasi jembatan yang sebagian bagiannya telah putus. Tidak ada pengaman, tidak ada jalan alternatif. Hanya langkah hati-hati dan keyakinan bahwa amanah harus ditunaikan. Desa yang dituju memang tidak dapat diakses kendaraan, namun di sanalah negara tetap harus hadir dan Syirajun memilih menjadi perantaranya.
“Kalau bukan kita, siapa lagi?”
Kalimat sederhana itu kerap terucap dari Syirajun ketika ditanya tentang beratnya tugas yang ia jalani.
Dalam kondisi seperti itu, tidak sedikit aparatur memilih mengajukan pindah tugas. Namun Syirajun justru mengambil sikap berbeda. Ia tidak pernah terpikir untuk mengajukan mutasi. Baginya, penempatan di Nasal bukan beban, melainkan kesempatan.
Setiap perjalanan panjang memberinya pengalaman baru. Setiap pernikahan yang ia pimpin membawanya lebih dekat dengan masyarakat. Dari sekadar petugas negara, ia perlahan menjadi bagian dari kehidupan sosial warga dikenal, dipercaya, bahkan diperlakukan seperti keluarga sendiri.
Syirajun percaya, pengabdian sejati tidak selalu berada di tempat yang nyaman. Justru di wilayah dengan keterbatasan, makna tugas sebagai penghulu terasa lebih utuh. Ia tidak hanya mencatat peristiwa hukum pernikahan, tetapi juga menyaksikan langsung realitas kehidupan masyarakat pedesaan, kesederhanaan, kekuatan gotong royong, dan ketulusan.
Di tengah tantangan alam yang ekstrem, Syirajun menemukan satu hal yang membuatnya bertahan,hubungan kemanusiaan. Ia mengenal wajah-wajah baru, cerita hidup yang beragam, dan nilai kebersamaan yang kelak akan ia kenang sebagai bagian terpenting dari pengabdiannya sebagai ASN Kementerian Agama dengan slogan yang ia pegang teguh “Iklas Beramal”
Di Kecamatan Nasal, pengabdian Syirajun mungkin tidak tercatat dalam angka statistik atau laporan panjang. Namun jejak langkahnya tersimpan di jalan setapak desa, di sungai yang ia seberangi, dan di kepercayaan masyarakat yang ia bangun perlahan.
Kisah Syirajun adalah potret kecil tentang aparatur negara yang bekerja jauh dari sorotan. Tentang bagaimana negara hadir melalui langkah kaki seorang penghulu, yang memilih setia pada tugas, meski jalan menuju pengabdian tak pernah mudah, namun perlahan masyarakat akan merasakan kehadiran Kementerian Agama benar nyata adanya. (Dina)