Kementerian Agama dikenal sebagai instansi pemerintah dengan identitas khas bersemboyan Ikhlas Beramal. Semboyan ini tidak terpisahkan dari Kementerian Agama karena melekat pada lambang resmi yang berbentuk “Segilima”. Ini tertuang dalam Keputusan Menteri Agama No. 717 Tahun 2006 tentang Lambang Departemen Agama.
Dalam belied itu, dijelaskan lambang dari makna Bintang bersudut lima yang menandakan sila pertama dalam Pancasila, 17 kuntum bunga kapas, 8 baris tulisan dalam Kitab Suci dan 45 butir padi dengan makna Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Selain itu terdapat alas Kitab Suci, teks ikhlas beramal, perisai segilima hingga kelengkapan makna lambang dengan syarah yang meneguhkan iman dan hati suci tentang pengabdian kepada bangsa dan negara sebagai ibadah.
Lambang segilima ini sepertinya bukan bentuk pertama logo Kementerian Agama. Riset penulis menemukan ada penyematan kalimat Ichlas Beramal (dengan ejaan lama) yang melekat dalam gambar Panji berisikan lambang Departemen Agama dalam bentuk Bola Dunia. Lembang sejenis ini antara lain ditemukan dalam buku Peranan Departemen Agama Dalam Revolusi dan Pembangunan Bangsa, terbitan Biro Penerbitan dan Perpustakaan Departemen Agama Tahun 1965. Catatan ini pernah diulas dalam sebuah tulisan di Islami.co, pada 2 Januari 2024 dengan judul “Sejarah Logo dan Slogan Ikhlas Beramal Kementerian Agama”.
Dalam buku yang ditulis untuk menyambut Hari Ulang Tahun ke-20 Departemen Agama, 3 Januari 1966 itu, tertera beberapa uraian lambang sebagai berikut:
1) Dasar: Pandji Departemen Agama terbuat dari beludru hidjau tua, dengan pinggirnya berjambul kuning,
2) Ukuran: melintang 180 x 120 cm,
3) Warna: Bola Dunia terbuat dari kain biru langit dengan gambarnja benang persik. Butir padi sebanyak 45 buah dan bintang dilukis dengan mas. Tangkai Kapas berwarna hijau muda sedang kapasnja benang perak, dengan djumlah 17 batang. Kitab Suci dan sembojan “ICHLAS BERAMAL” diukir dengan perak.
Selain itu, lambang bola dunia juga ditemukan dalam Majalah Mimbar Agama, No. 2 terbitan Biro Penerbitan dan Perpustakaan Departemen Agama Tahun 1965. Majalah tua milik Kementerian Agama ini menggambarkan tampilnya Lambang Ichlas Beramal dengan bentuk Bola Dunia dalam agenda Penyerahan Pandji dan Pataka Departemen Agama, oleh Prof. Dr. KH. Saifuddin Zuhri sebagai Menteri Agama kepada peserta upacara.
Dalam foto, tampak Yang Mulia Menko/Menteri Agama Prof. KH. Saifuddin Zuhri selaku Inspektur Upacara sedang menyerahkan Sebuah Pataka yang ditujukan untuk Ikatan Karyawan Depag (IKDAM), pada 3 April 1965 di Lapangan Upacara Depag Jl. MH. Thamrin. Agenda bersejarah itu dihadiri dan disaksikan oleh seluruh unsur pejabat dan karyawan Departemen Agama Pusat di Jakarta antara lain para pembantu-pembantu Menteri, Kepala Direktorat-direktorat, Biro, Lembaga, para ratusan karyawan dari seluruh direktorat, petugas di lingkungan Depag serta dihadiri para sukarelawan dan sukarelawati yang menyaksikan secara khidmat dan seksama.
Dalam prosesi penyerahan dan peresmian itu terdapat penjelasan singkat tentang Lambang, baik yang berbentuk 1 buah Panji maupun 4 buah Pataka lainnya, sebagaimana berikut:
1. Departemen Agama: Panji, warna dasar Hijau, berarti kebenaran dan ketahanan, sebab Agama adalah satu kebenaran oleh karenanya harus dipertahankan.
2. Direktorat Urusan Agama: Pataka, warna dasar Biru berarti damai, karena Agama harus dikembangkan dengan cara-cara damai tanpa paksaan
3. Direktorat Pendidikan Agama: Pataka warna dasar Kuning yang berarti harapan dan kemenangan dalam rangka nation dan character building, ialah apabila pendidikan agama diperkembang seluas-luasnya.
4. Direktorat Peradilan Agama: Pataka, warna dasar Ungu yang berarti ketahanan dan kekuatan; maksudnya bahwa keadilan yang bersumber pada Agama selamanya harus dijunjung tinggi karena itulah ketahanan dan kekuatan yang hakiki
5. Direktorat Penerangan Agama: Pataka warna dasar Merah, berarti berani dan dinamis, maksudnya bahwa Agama harus disiarkan seluas-luasnya dengan sikap berani untuk melindungi kebenaran dan sikap dinamis tidak mengenal putus asa.
6. Ikatan Karyawan Departemen Agama (IKDAM/PMA No. 30 Tahun 1965 Tentang Organisasi Karyawan Departemen Agama): Pataka berlatar warna Kuning Tua yang berarti kejayaan, maksudnya untuk mencapai kejayaan Nusa, Bangsa dan Negara maka harus diilhami senantiasa oleh nilai dan ajaran kemuliaan Agama, yang dilaksanakan oleh Karyawan dalam sikap ketaatan beragama.
Khusus yang berkenaan dengan bentuk dari Lambang Departemen Agama, ditemukan penjelasan sejumlah unsur berikut:
1) Bola dunia dilingkari kapas sebanyak 17 kuntum dan padi sebanyak 45 butir
2) Bintang
3) Kitab Suci
4) Rehal, dan
5) Semboyan; Ichlas Beramal
Sangat menarik jika melihat perbandingan dua lambang Kementerian Agama, baik versi Bola Dunia maupun bentuk Segilima. Secara umum, tidak banyak unsur pembeda di antara keduanya. Kedua lambing itu sama-sama memiliki unsur bintang, Kitab Suci, rehal atau alas tatakan, butir padi dan bunga kapas yang sama jumlahnya.
Unsur lain yang perlu kajian dan penelusuran lebih lanjut adalah terkait baris beserta jumlahnya. Dalam versi Bola Dunia, tidak disebutkan secara rinci, sedangkan dalam versi Segilima disebut berjumlah 8 yang merujuk pada makna urutan bulan kemerdekaan. Perbedaan lain tampak pada keberadaan Bola Dunia dan Perisai Segilima, di mana pada satu versi lambang ada, namun tidak ditemukan pada versi lambang lainnya. Temuan awal ini diharapkan dapat dikaji lebih lanjut melalui sejumlah regulasi yang menjadi konsideran dalam KMA No. 717 Tahun 2006 yang merekam versi akhir Lambang Ikhlas Beramal. Regulasi itu antara lain: KMA 43 Tahun 1982 dan KMA No. 58 tahun 1979.
Konteks Lahirnya Lambang Ichlas Beramal “Bola Dunia”
Peristiwa penyerahan Pataka pada 3 April 1965 oleh Menko/Menteri Agama Prof. KH. Saifuddin Zuhri menjadi momentum penting untuk memahami konteks sejarah lambang Ichlas Beramal Bola Dunia. Peristiwa itu tidak terlepas dari semangat kebijakan Menteri Agama KH. Saifuddin Zuhri pada tahun keempat kepemimpinannya untuk memperkokoh struktur Departemen Agama. Dua tahun sebelum itu, Menteri Agama Saifuddin telah menerbitkan Peraturan Menteri Agama No. 1 Tahun 1963 dan Keputusan Menteri Agama No. 47 Tahun 1963 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Agama. Dua kebijakan tersebut mengarah pada Upaya mengokohkan aspek administratif dalam tubuh organisasi Departemen Agama, antara lain terbaginya kewenangan Depag Pusat dan Intansi Agama Daerah, peralihan istilah dari jawatan ke direktorat, serta terakomodirnya layanan agama-agama dalam nomenklatur biro-biro, hingga lembaga-lembaga penelitian, terjemah dan tashih, perencanaan, penasehat perkawinan, dan kesejahteraan keluarga.
Syahdan, dalam bingkai suasana saat itu, Menteri Agama dengan tegas menyampaikan semangat layanan keagamaan berikut:
“bahwa tingkatan Revolusi kita pada waktu sekarang sudah tidak lagi mempersoalkan pentingnya fungsi dan peranan Agama dalam kehidupan bangsa dan negara kita. Persoalan itu sudah lampau, karena tingkatan revolusi sekarang telah sangat jauh, bukan lagi mempersoalkan penting atau tidak pentingnya Agama dalam Nation Building, akan tetapi sudah sampai pada peningkatan penggalian-penggalian untuk menemukan metode baru bagaimana mempraktekkan ajaran-ajaran Agama menurut sumber asilnya untuk diterapkan ke dalam penyusunan masyarakat baru yang benar-benar taat kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang progressif patriotik dan anti nekolim dalam segala manifestasinya”.
Bersamaan dengan momentum peresmian dan penyerahan Panji dan Pataka Ichlas Beramal “Bola Dunia” Departemen Agama, Mimbar Agama menulis bahwa agenda upacara ditujukan sebagai dukungan dan upaya Organisasi Departemen Agama guna menyukseskan Dasa Warsa Asia Afrika (KAA, Bandung 1955), di mana bersamaan dengan pasca pelaksanaan Konferensi Islam Afrika Asia di Bandung 6-14 Maret 1965 yang berjiwakan semangat kesuciaan Hari Raya Idul Adha 1384 Hijrriyah.
Betapa kedudukan lambang Ichlas Beramal “bola dunia” Departemen Dunia itu turut menjadi berkah bagi insan-insan Departemen Agama dalam rangka menyukseskan hajat-hajat layanan keagamaan tidak hanya di tingkat nasional namun berbuah dalam spirit diplomatik kenegaraan di level internasional.
Wal akhar, di luar kontekstualisasi ataupun latar belakang substansi kesejarahan terkait lambang dan semboyan, kepada siapakah ucapan terima kasih patut dilayangkan? Dan siapa sebenarnya sosok di balik Lambang Ichlas Beramal “Bola Dunia” Departemen Agama itu?
Jika kembali merujuk pada referensi Majalah Mimbar Agama tahun 1965, maka didapatkan keterangan singkat, “perlu dikemukan bahwa gagasan lambang tersebut adalah hasil tjiptaannya H. A. Rusyana BA, Ketua Umum Pengurus Besar IKDAM, jang kemudian mendapat penjempurnaannja dari jang Mulia Menteri Agama, Prof K.H. Sjaifuddin Zuhri dan diilustrasikan oleh Ahmad Nasibu, pegawai Direktorat Penerangan Agama, Djakarta”. Lantas siapakah H. A. Rusyana, BA? Tak banyak data yang dapat dihimpun untuk mengenal lebih jauh sosok ini. Kita sekarang cukup mengenalnya sebagai insan Kementerian Agama yang memberikan jejak jariyah kemulian tentang landasan Ikhlas Beramal. Ia yang menempatkan kata Ichlas tepat di bawah dalam lambang “Bola Dunia”, dengan peta wilayah Negara Kesatuan Rebuplik Indonesia. Serta darinya pula kata “beramal” ditempatkan secara khusus di dalam bingkai sebuah pita indah dengan bentuk huruf kapital, seakan ada pesan tegas yang ia sematkan.
Wal Akhir, semoga ikhtiar kecil di jalur periwayatan sejarah ini dapat memetik keberkahan jariyah dari para muassis pejuang Republik yang mengabdi di Kementerian Agama, wa bil khusus bagi pencipta Lambang Ichlas Beramal. Sehingga dalam langkah memasuki usia ke-80 pada 3 Januari 2026, spirit khittah dapat menguatkan daya harakah, fikrah dan kemaslahatan layanan keagamaan di masa-masa mendatang. Wallahu A’lam Bi Shawab.
Syafaat Mohamad (ASN Kementerian Agama)