Kokurikuler Dan Penguatan Pendidikan Holistik

Oleh: Brenny Novriansyah, Ph.D
Praktisi Pendidikan Madrasah
 

Satu hal dalam pembelajaran yang sering kali diabaikan guru yaitu kegiatan kokurikuler. Kegiatan semacam ini dinilai menyita waktu, mengeluarkan banyak biaya, mengganggu jam pelajaran lain, berbenturan dengan kebijakan dan aturan sekolah, dan masih banyak beribu alasan  lainnya yang menghalangi terwujudnya kegiatan kokurikuler.

Padahal setidaknya ada tiga kegiatan pembelajaran di sekolah yaitu: intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Ketiga-tiga program pembelajaran ini adalah suatu proses yang tak terpisahkan antara satu sama lain. Ketiganya merupakan ruh dari pendidikan holistik yang bertujuan mencetak manusia yang seutuhnya.

Kegiatan kokurikuler merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk lebih memperdalam dan menghayati materi pelajaran yang telah dipelajari dalam kegiatan intrakurikuler didalam kelas. Kegiatan ini dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. Seperti: Kunjungan ke museum, peternakan, perkebunan, pabrik, industri kimia, konstruksi bangunan, jembatan, daerah tercemar, lokasi wisata, situs peninggalan sejarah Islam, pasar, dll.

Kegiatan kokurikuler dapat dilakukan secara terintegrasi dengan berbagai mata pelajaran dalam 1 kegiatan. Kolaborasi berbagai mata pelajaran ini akan membentuk proses berfikir kritis peserta didik dalam melihat sesuatu dari berbagai cabang ilmu pengetahuan. Sehingga akan terjadi moderasi berfikir yang multikultur. Hal ini secara holistik akan membentuk karakter manusia yang arif dan bijaksana dalam menyikapi segala sesuatu.

Sebagai contoh kegiatan kokurikuler seperti Kunjungan ke Perkebunan, didalamnya melibatkan Mata pelajaran Biologi, Kimia (pupuk), fisika (teknik penanaman, pemeliharaan, dll), bahasa, PKWU (olahan pasca panen atau marketing hasil bumi). Bahkan bisa melibatkan guru TIK tentang bagaimana marketing bahan olahan pertanian di media sosial maupun market place.

Berkembangnya dunia teknologi digital menuntut kompetensi guru untuk beradaptasi dan adopsi dengan cepat teknologi digital yang ada saat ini. Sehingga inovasi pembelajaran dapat terus berkembang sesuai zamannya. Dalam rangka menyongsong revolusi industri 4.0., guru tak lagi dibebani dengan pembelajaran cara konvensional. Yang hanya membebankan siswa dengan setumpuk tugas yang harus dipenuhi. Bila siswa tidak mampu memenuhi semua tugas tersebut maka siswa dinilai gagal dan kurang baik. Tentu pola pembelajaran seperti ini bertentangan dengan "Merdeka Belajar" seperti yang digagas oleh pak Nadiem Mendikbud kita.

Jika madrasah bercita-cita untuk mewujudkan pembelajaran yang HOTS (High Order Thinking Skills) artinya selain pembelajaran harus benar-benar sudah _student centered_ juga sudah menjadi prinsip untuk menstimulus pembelajaran yang _bottom-up_ bukan _top-down_. Hal ini akan berdampak pada pembelajaran yang kreatif dan produktif. Serta mengembangkan _Critical Thinking_ peserta didik.

Kita berupaya menciptakan pembelajaran yang AKTIF, KREATIF, INOVATIF, PRODUKTIF, DAN MENYENANGKAN. Kata produktif sengaja saya sandangkan dalam sistem pembelajaran, karena memang sudah menjadi tuntutan kurikulum 2013 yang mengarah ke pembelajaran _Project Based Learning_. Produktif dalam berinovasi menciptakan sesuatu yang memiliki nilai jual dan bernilai guna bagi masyarakat. Minimal bernilai guna bagi lingkungan dimana ia tinggal. Sehingga hal ini akan membekali lulusan madrasah untuk berkompetisi dalam bursa pasar kerja maupun dunia usaha kreatif baik konvensional maupun berbasis daring.

Sudah saatnya madrasah berbenah diri untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0. menciptakan generasi berbasis digital. Semua komponen baik software maupun hardware madrasah perlu bersinergi dalam inovasi layanan pendidikan yang relevan dengan perubahan teknologi digital saat ini. Dimasa depan, sistem pembelajaran di sekolah atau madrasah akan menjadi _hybrids learning_. Yang akan mengandalkan aplikasi pada telepon genggam untuk merekam semua aktifitas pembelajaran. Karena sejatinya apa yang dilihat, dirasakan, dipikirkan, dan dikerjakan baik didalam lingkungan madrasah maupun diluar atau dirumah, semuanya adalah proses pendidikan. Jika demikian maka learning society dapat diwujudkan, dan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju.
Semoga bermanfaat.

(Selain Sebagai Praktisi Pendidikan Madrasah, Penulis juga aktif sebagai Guru MAN Model Kota Bengkulu)

Bagikan :