Kakan Kemenag Kab. Seluma Buka FGD Moderasi Beragama Bagi Guru PAI

Kakan Kemenag Kab. Seluma Buka FGD Moderasi Beragama Bagi Guru PAI

Seluma (Humas) - Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Seluma Drs. H. Mulya Hudori,M.Pd membuka langsung acara Focus Group Discussion Moderasi Beragama Bagi Guru Pendidikan Agama Islam. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kasi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Aidi Muksin, S.Sos.I, M.Ag yang berlangsung di Gedung Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Seluma. Kamis ( 09 / 09 / 2021 )

Kegiatan FGD ini berlasngsung selama satu hari dengan menyusung tema Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menanamkan Moderasi Beragama. Adapun narasumbernya Bapak Supratman, M.M Kepala Bapeda Kabupaten Seluma dan juga Pelaksana Tugas Dinas Diknas Kabupaten Seluma. Adapun Peserta merupakan Guru Pendidikan Agama Islam Kabupaten Seluma.

Kakan Kemenag Seluma H. Mulya Hudori dalam kata sambutanya menyampaikan bahwa Guru Pendidikan Agama Islam memiliki peran untuk membina siswa-siswi, mereka merupakan kader untuk bisa diterapkan dilingkungan masyarakat.

Kakan Kemenag juga berpesan kepada peserta FGD untuk mengikuti kegiatan dengan serius, harapan apa yang disampaikan oleh narasumber nantinya bisa dimengerti dan bisa didiskusikan bersama sehingga apapun permasalahan yang terkait tentang moderasi beragama bisa mendapatkan hasilnya.

“ Dengan adanya FGD ini biasa mendapatkan solusi untuk membina generasi kedepan yang menuju generasi yang saling hormat menghormati, generasi yang toleran, dan generasi yang moderat dalam kegiatan keagamaan”. Ujar Mulya Hudori.

Sebelumnya Kasi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Aidi Muksin, S.Sos.I, M.Ag yang merupakan selaku ketua panitia menyampaikan langsung laporan kegiatan Focus Group Discussion Moderasi Beragama Bagi Guru Pendidikan Agama Islam dan menjelaskan secara detail tentang kegiatan FGD.

“Moderasi agama adalah sebuah cara pandang terkait proses memahami dan mengamalkan ajaran agama , agar pelaksanaannya selalu dalam jalur yang moderat, moderat yang dalam arti tidak berlebih-lebihan atau eksrim, hal  ini karna terbatasnya manusia dalam menapsirkan pesan-pesan agama sehingga muncul keragaman”. Pungkas Aidi Muksin. (zh)

Bagikan :