Penghulu Curup Timur RL Jelaskan Kriteria Pemimpin Dalam Islam

Penghulu Curup Timur RL Jelaskan Kriteria Pemimpin Dalam Islam

Bengkulu (Informasi dan Humas) 4/12- Penghulu KUA Curup Timur Kabupaten Rejang Lebong (RL), Bulkis, S.Th.I, MHI menjelaskan kriteria pemimpin berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Kriteria tersebut disampaikan oleh Bulkis ketika menyampaikan khutbah Jumat (04/12) di Masjid Al-Muhajirin Kelurahan Dwi Tunggal Kota Curup. Menurutnya jamaah perlu diberikan wawasan tentang syarat pemimpin berdasarkan tuntunan Allah SWT dan Rasulnya.

Bulkis mengatakan bahwa Islam merupakan agama yang universal. Artinya segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan manusia ada tuntunannya di dalam AL-Qur’an dan Sunnah. 

“Ajaran Islam meliputi segala sisi kehidupan manusia. Mulai dari tatacara buang air kecil sampai cara memimpin sebuah negara pun diatur dalam Islam. Ini merupakan bukti bahwa Islam merupakan rahmatan lil’alamin”, kata Bulkis.

Sifat yang harus dimilki oleh seorang pemimpin di antaranya adalah memiliki ilmu serta fisik yang kuat. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 247, “Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik”. Sifat selanjutnya yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah pandai menjaga aset negara, serta memiliki kompetensi yang mumpuni terutama berkaitan dengan jabatannya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Yusuf ayat 55, “Yusuf berkata: Jadikanlah aku bedaharawan negeri Mesir, karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan”. 

Sifat lainnya yang harus dipunyai oleh pemimpin adalah orangnya kuat lagi jujur. Firman Allah SWT dalam surat Al-Qashas ayat 26, “Sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya”. Kuat, tegas, berani, dan teguh pendirian lagi jujur merupakan sifat mulia yang mesti dimiliki oleh seorang pemimpin. Kuat dan jujur tidak dapat dipisahkan pada diri seorang pemimpin. Kalau hanya memiliki sifat jujur, tetapi tidak kuat, maka ia akan menjadi pemimpin yang diktator dan otoriter serta menindas rakyatnya. Sebaliknya jujur, tetapi tidak kuat, maka ia akan didikte oleh kekuatan lain seperti partai pengusungnya, tim suksesnya, atau atasannya. Sehingga ia tidak tunduk kepada kebenaran, melainkan tunduk kepada pengaruh yang lebih kuat.

Sebagai rakyat yang diberi hak untuk memberikan suara dalam memilih pemimpin, maka sifat amanah harus dijaga. Ketika amanah disia-siakan maka tunggulah masa kehancuran. Menyia-nyiakan amanah adalah memberikan jabatan kepada orang yang bukan ahlinya. Dalam kehidupan nyata dapat dilihat bahwa kemunduran bahkan kehancuran suatu negeri disebabkan pemimpin yang tidak ahli di bidangnya.

Penulis : Humas KUA **
Redaktur: H.Nopian Gustari

Bagikan :