Ka.Kanwil: Perbedaan Agama Merupakan Sebuah Rahmat

Ka.Kanwil: Perbedaan Agama Merupakan Sebuah Rahmat
Bengkulu (Informasi dan Humas) 11/9- Perbedaan agama dan kepercayaan merupakan sebuah rahmat dan hendaknya jangan dijadikan alat untuk pemecah belah bangsa, kata kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Bengkulu, H.Suardi Abbas,SH,MH saat memberikan materi dalam orientasi multikultural mahasiswa dan penyuluh lintas Agama belum lama ini. "Perbedaan yang ada adalah sebuah rahmat yang harus kita syukuri, kita tidak pernah tahu kita dilahirkan dalam agama apa, semua itu merupakan karunia allah yang tidak perlu dipermasalahkan dan menjadi perdebatkan," ujarnya dihadapan peserta orientasi yang digelar di Raffles City Hotel Bengkulu. Menurut Ka.Kanwil, tidak ada satupun manusia yang tahu bahwa dia dilahirkan ke dunia ini akan menganut agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu ataupun Budha dan semuanya telah ditetapkan oleh tuhan dengan hidayah yang diberikan kepada umat manusia. Lebih lanjut menurut dia, bahwa berdasarkan hasil penelitian dari Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama menemukan bahwa faktor agama menduduki peringkat kedua setelah politik dan ekonomi sebagai pemicu konflik di Indonesia. Berkaitan dengan hal itu, ia mengaku sangat mendukung kegiatan orientasi multikultural lintas agama yang diselenggarakan subbag Hukum dan Kerukunan Umat Beragama (KUB) kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu dan hendaknya kegiatan semacam itu juga bisa dilaksanakan di Kabupaten kota dengan peserta yang lebih banyak. "Kegiatan semacam ini sangat mendukung terciptanya suasana yang aman, damai dan kondusif dan sesuai dengan salah satu Misi Kementerian Agama yaitu Peningkatan Kualitas Kerukunan Umat Beragama," ujarnya. Untuk itu, ia mengajak segenap umat beragama di Provinsi Bengkulu untuk senantiasa menjunjung tinggi kebersamaan, dan selalu mengingat pentingnya semboyan bangsa Indonesia yaitu bhineka tunggal ika yang berarti walaupun berbeda-beda namun tetap satu jua. "Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia, Masyarakat multikultural (Majemuk) merupakan masyarakat yang memahami keberagaman dalam kehidupan di dunia dan menerima adanya keragaman tersebut, seperti: nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang dianut," paparnya.  Mahasiswa dan penyuluh agama harus memiliki prinsip etik multikulturalisme, yaitu kesadaran perbedaan satu dengan yang lain menuju sikap toleran yaitu menghargai dan mengormati perbedaan yang ada. Perbedaan yang ada pada etnis dan religi sudah harusnya menjadi bahan perekat kebangsaan apabila antar warganegara memiliki sikap toleran Penulis : Jaja (b) Editor : H.Nopian Gustari
Bagikan :